Ketentuan Kami

# Cek Stock SENIN - SABTU 08.00-17.00 diatas jam 17.00 Slow Respon, hari Minggu/Libur Slow Respon

# Usahakan Pemesanan pada Posting Terbaru untuk menghindari kehabisan stock *Tidak Berlaku sistem Booking , siapa cepat dia dapat.

# Pemesanan dan Pengecekan Stock : Kirim Nama/Model Tas + Foto + Alamat lalu Kirim ke BBM : 51EF7BDE / 5E0D5C26 (ada Group & dapatkan discontnya untuk pemesanan model yang masih ada digroup), WA : 0815 4624 7771 (Pilih Salah satu)

#Pengiriman Melalui TIKI atau JNE * Barang dikirim dari BATAM *Barang dikirim 1 hari setelah transfer * Pengiriman dilakukan setiap hari jam 9.00 (SENIN-SABTU) *Kehilangan barang dalam pengiriman bukan merupakan tanggung jawab kami * Hari Minggu/Libur tidak ada pengiriman.

Posting rutin setiap hari di bbm 51EF7BDE

Untuk Pemesanan Sarang Burung Walet silahkan SMS/WA ke Nomer HP: 0815 4624 7771

Terima kasih atas kunjungannya

Ketik Pencarian

Jumat, 03 Mei 2013

Membangun Rumah Tangga Surgawi

Banyak orang berumah tangga, tetapi tidak mendapatkan keharmonisan dan ketenangan dalam rumah tangganya. Suami dan istri sering bertengkar, padahal seharusnya hal itu tidak perlu terjadi. Karena itu, saran-saran kami berikut ini bisa diperhatikan, agar suami istri menjadi pasangan yang penuh kedamaian.
  1. Lapang dada terhadap kesalahan pasangannya.
    Hal ini sebaiknya dilakukan, lebih-lebih terhadap kesalahan yang tidak disengaja, baik yang berkenaan dengan ucapan ataupun perbuatan.
    Pasangan suami isteri wajib bersabar ketika melihat kekhilafan pasangan hidupnya, dan berusaha mencari berbagai alasan pembenar mengapa pasangannya melakukan hal tersebut. Demikian pula, mereka berkewajiban untuk tidak melayani amarah dengan amarah. Sehingga, apabila suami atau isteri melihat pasangannya sedang emosi, maka dia berkewajiban untuk menahan amarah dan tidak memberikan reaksi langsung terhadap sikap emosional tersebut.
    Isteri, dalam hal ini, memiliki kewajiban lebih besar dibandingkan laki-laki, karena adanya hak-hak suaminya atas dirinya. Betapa indahnya perkataan seorang shahabat Nabi yang bernama Abu Darda’ kepada isterinya, “Jika engkau melihat diriku sedang emosi maka redakanlah emosiku. Sebaliknya jika aku melihatmu bersikap emosional kepadaku maka aku akan meredakan amarahmu. Jika hal ini tidak kita lakukan, maka kita tidak akan bisa hidup bersama.”
  2. Empati dan perhatian kepada pasangannya, dalam susah maupun senang.
    Sesungguhnya, rasa cinta tidaklah datang dengan tiba-tiba, atau memancar dari bumi dengan sendirinya. Jika kita tidak berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta dan melakukan usaha untuk mewujudkannya, tentu rasa cinta tidak akan datang.
    Sesungguhnya, faktor terpenting untuk menumbuhkan ataupun untuk melanggengkan rasa cinta adalah rasa empati. Jika suasana rumah tangga tidak dipenuhi dengan rasa empati, maka hilanglah rasa cinta dan semangat untuk bekerja sama. Sebagai gantinya, akan muncul kebencian dan kemalasan.
    Empati atau kebersamaan rasa dalam suasana gembira akan menjadikan rasa cinta semakin tumbuh bersemi. Dan akan membantu pasutri ketika terjadi musibah.
    Hendaknya pasangan suami isteri saling menolong ketika susah dan senang, untuk menghadirkan kegembiraan dan mencegah kesedihan, agar berbagai hajat kebutuhan terpenuhi dan berbagai kesedihan terhindari.
  3. Menasehati pasangan agar taat kepada Allah, dan melakukannya dengan penuh suka rela.
    Dalam satu hadits, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyatakan bahwa, milik seorang manusia yang paling berharga adalah isteri mukminah yang bisa membantunya untuk melestarikan imannya.
    Tolong-menolong dalam ketaatan akan membuahkan sikap saling memahami, bahkan dapat menghantarkannya ke puncak kebahagiaan.
    Tolong-menolong dalam ketaatan memiliki dampak yang sangat penting bagi suami isteri dan anak keturunannya, saat ini dan di masa yang akan datang. Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengagungkan agamaNya, tentu mereka akan merasa mudah untuk melaksanakan berbagai beban syariat ketika mereka menginjak usia aqil baligh. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang suami yang bangun dari tidurnya di waktu malam, lalu melaksanakan shalat malam dan membangunkan isterinya untuk melaksanakan shalat malam. Jika isterinya tidak mau bangun, suami tersebut memercikkan air ke wajah isterinya. Dan semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang isteri yang bangun dari lelapnya tidur diwaktu malam, lalu melaksanakan shalat dan membangunkan suaminya agar mengerjakan shalat malam. Jika suami enggan untuk bangun, isteri tersebut memercikkan air ke wajah suaminya.” (HR. Abu Dawud)
  4. Menjaga Rahasia Masing-masing.
    Suami isteri tidak boleh menceritakan, menyebarluaskan dan mengkabarkan aib-aib tersembunyi yang dimiliki pasangannya kepada orang lain. Ini merupakan kewajiban masing-masing suami dan isteri. Akan tetapi kewajiban isteri dalam hal ini lebih besar daripada suami. Karena dampak negatif yang ditimbulkan oleh sikap isteri yang meremehkan hal ini adalah sangat besar sekali.
    Sesungguhnya, menyebarluaskan rahasia rumah tangga itu akan menimbulkan dampak yang sangat mengerikan, baik dalam sisi agama ataupun sisi dunia. Bahkan bisa menjadikan sebuah rumah tangga menjadi hancur berkeping-keping.
  5. Tidur Bersama.
    Seorang isteri memiliki kewajiban untuk memenuhi panggilan suaminya, ketika sang suami menginginkan dirinya, meskipun saat itu san sang isteri tidak berhajat. Kecuali, jika ada alasan yang bisa dibenarkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap suami yang mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu isterinya menolak, maka (Allah) yang berada di langit akan murka kepada isteri tersebut, sampai suami meridhainya.”
    Syariat Islam tidak hanya menuntut isteri untuk memenuhi permintaan suami. Akan tetapi, syariat juga menuntut suami untuk memenuhi hak biologis isteri, tidak melalaikan isteri, atau sengaja meninggalkannya.
    Dalam Islam, seorang suami diperintahkan untuk memenuhi kebutuhan biologis isteri, sesuai dengan kebutuhan isteri dan kemampuan suami.
  6. Berhias dan Berdandan.
    Seorang isteri seharusnya berhias untuk suaminya, demikian pula seorang suami hendaknya berhias untuk isterinya.
    Mengenai berhias, hendaknya suami dan isteri memberikan perhatian dengan porsi yang sepantasnya.
    Seorang isteri berkewajiban berhias untuk suaminya. Bahkan, hal tersebut termasuk hak suami atas isteri, meskipun untuk hal tersebut isteri terpaksa menghabiskan banyak waktu. Hal ini dikarenakan berhias merupakan sebab tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antara suami dan isteri. Namun isteri harus berhati-hati jangan sampai berhias dengan sesuatu yang diharamkan meski hal tersebut diperintahkan dan dicintai oleh suami. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad).
    Demikian pula seorang suami, seharusnya berhias untuk isterinya dengan hal-hal yang sesuai dengan sifat kelaki-lakiannya. Oleh karena itu, ia tidak boleh mencukur atau memendekkan jenggotnya, karena ia adalah simbol kejantanan dan perhiasannya.
    Sesungguhnya, sebagaimana seorang suami ingin melihat isterinya berdandan cantik untuknya, demikian pula seorang isteri ingin melihat suaminya berdandan tampan untuknya. Allah berfirman, “Dan para isteri itu memiliki hak semisal kewajiban yang wajib mereka penuhi dengan kadar sepatutnya.” (QS. al-Baqarah:228). Wallahu a’lam.
  # Qiblati.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog ini boleh dikomentari